Lomba Menulis Dongeng: Al-Fiil dan Namlu

Pada zaman dahulu kala, di sebuah hutan belantara hiduplah beberapa komunitas hewan yang dipimpin oleh Sang Raja hutan yang sangat bijak. Sang raja hutan tersebut adalah seekor singa yang bernama Asad.

Pada suatu hari digelarlah sebuah perayaan besar, bermula dari matahari terbit hingga tengah hari menyengat. Semua kelompok hewan menyuguhkan kebolehannya. Unjuk minat bakat tersebut sangat memukau semua hadirin yang menyaksikan. Kelompok kutilang bernyanyi dan bersiul dengan merdunya, group ular menari dengan gemulai, paguyuban gajah Al-Fiil bermain bola dari jerami sambil berjoged riang, kerabat  monyet  menyajikan atraksi lompat dan berayun dari pohon satu ke pohon berikutnya, kelompok kuda menyajikan parade kirab dan derap pacunya begitu pula  kelompok hewan lainnya. Mereka sangat antusias berpentas serta menikmati hiburan perayaan tersebut. Makanan yang sangat lezatpun disajikan pada pesta kali ini, berbagai buah-buahan dan dedaunan segar nan bergizi dihidangkan untuk semua kalangan. Perayaan yang diselenggarakan setiap sewindu sekali ini memang benar-benar sangat mereka nantikan, karena pada saat itulah mereka bisa bersua mempererat ukhuwah dengan seluruh komunitas binatang yang tinggal di hutan tersebut.

Tak terasa sang surya mulai meninggi, pancaran teriknya pun sudah menyengat beberapa kulit hewan yang sedang menikmati hiburan dan sajian perayaan. Di penghujung acara, sang raja menaiki mimbar singgahsananya seraya berpidato mengapresiasi perayaan dan kekompakan kelompok serta kerukunan intern kelompok. Raja Asad juga mengumumkan sebuah sayembara kompetisi antar kelompok hewan : “ Assalamu’alaikum Wahai rakyatku semua yang aku mulyakan, alhamdulillah, puji syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa, perayaan kali ini berlangsung dengan sangat meriah penuh bahagia. Terima kasih atas partisipasi kalian semua wahai rakyatku yang Aku cintai. Kekompakan dan kerukunan antar kita adalah tonggak persatuan kita semua. Oleh karena itu, Aku akan mengadakan sayembara atau sebuah kompetisi untuk kalian. Kompetisi ini akan dimulai besok dan berakhir pada purnama depan. Setiap kelompok kalian harus mampu berkompetisi mencipta suatu mega karya di habitatnya masing-masing. Kalian bebas berkreasi. Penilaianku meliputi kekompakan/kerjasama, kerapian dan nilai estetika mega karyanya. Mega karya terbaik akan mendapatkan hadiah sebuah istana megah di samping istanaku. Satu hal penting yang aku pesankan pada kalian, kompetisi ini untuk mengasah kreatifitas, kolaborasi dan sinergi kelompok kalian, jangan sampai hal ini merusak persatuan yang telah kita bangun dengan kokoh, jangan ada yang saling dengki dan curang. Mari berkompetisi dengan jujur dan bersih. Ingatlah wahai rakyatku, Allah Maha Melihat, Maha mendengar dan Maha Mengetahui atas segala yang kita perbuat. Dan hanya kepada Allahlah kita menyembah serta mohon pertolongan. Assalamu’alaikum “.

Seluruh hewanpun bertepuk tangan dan menyambut sayembara ini dengan riang gembira. Kemudian mereka pulang ke habitat masing-masing dengan semangat yang menggelora.

Keesokan harinya, setiap kelompok hewan sibuk berdiskusi merancang karya besar mereka. Mereka berkreasi dengan sepenuh hati. Ketua kelompok semut yang bernama Namlu dengan penuh semangat menjelaskan dan membagi tugas kepada anggotanya dengan adil. Namlu memotivasi kelompoknya untuk semangat berjuang menyempurnakan ikhtiar dan menjalin kerjasama yang baik, dia membuat yel-yel bersama kelompoknya ; “ Kami bisa, harus bisa, pasti bisa in syaa Allah, laa haula walaa quwwata illa billah “.

Mendengar yel-yel kelompok semut yang menggema dengan penuh semangat yang bergelora, ketua kelompok gajah yang bernama Alfiil mencibir dan mengejek Namlu : “ Ha ha ha ha. Hai Namlu, Kamu jangan sok pede, jangan berani mimpi terlalu besar, ngaca dulu, Kamu dan anggota kelompokmu berbadan mungil nan imut, mana mungkin kalian bisa menciptakan maha karya yang kuat, indah mempesona? Ha ha ha “. Tawa Alfiilpun diikuti tawa gajah lainnya dengan sinis.

Dua pekan telah berlalu, si bulan sabit mulai berangsur melebar melebihi separuh lingkaran, tanda purnama akan segera tiba dalam sepekan. Namlu bersama kelompoknya dengan gigih mewujudkan mega karyanya, sebuah istana semut dengan benteng pertahanan yang kokoh tinggal penyempurnaan saja.

Sementara itu, Alfiil sibuk memarahi anggota kelompoknya, rencana pembuatan istana panggung nan megah untuk sang raja hutan belum ada tanda-tanda setengah jadi, kelompoknya kurang koordinasi, saling mengatur pada saat melaksanakan tugas, sehingga banyak waktu dan tenaga yang terbuang sia-sia. Baru seperempat tahapan bongkar, ulang dari awal lagi, hingga hari yang ditentukan pun telah tiba.

Mentari mulai bersembunyi, sinar benderang sang rembulan mengambil alih peran sang surya. Semua hewan berkumpul di depan istana Sang Raja Asad. Mereka serasa tak sabar ingin menjadi pemenang sayembara.

Raja Asad mulai berpidato, semua ketua kelompok bersama anggotanya mulai merasakan dag dig dug getaran jantung yang hebat. Dan saat Sang Raja mengumumkan pemenang sayembara, bahwa kelompok semutlah pemenangnya, Namlu dan anggota kelompoknya langsung sujud syukur dan mengucap tasbih, tahmid dan takbir, mereka sambut kemenangan dengan riang gembira namun tetap santun dan tawadhu’. Alfiil tak bisa terima, hatinya berkecamuk dipenuhi rasa hasad kepada Namlu, dia berlari menuju mega karya kelompok semut, dia injak hingga porak-poranda. “ Alfiil, tolong jangan hancurkan karya kami Alfiil “, Namlu mengiba kepada Alfiil.

Raja Asadpun berteriak marah dengan tegasnya : “ Alfiil! Kamu harus belajar sportif mengakui kekalahan dan menghargai kemenangan pihak lain! Aku hukum Engkau dengan hukuman menjadi pembantu Namlu selama satu dasawarsa”.

“ Mohon maaf Raja, maafkan Aku, jangan hukum Aku seperti itu, masak Aku jadi pembantu Namlu? Maafkan Aku duhai Rajaku yang baik hati“ rayu Alfiil gengsi, dia terisak dan netranya mengeluarkan  butiran air yang menetes di pipi kanan kirinya.

“ Kamu jangan congkak dan gengsi wahai Alfiil, minta maaflah sama Namlu dan kelompoknya, atau Aku akan tambah dengan hukuman cambuk? “ Raja Asad menggertak Alfiil. Kemudian beliau berpesan pada semua hadirin : “ Wahai rakyatku yang dirahmati Allah, tirulah sifat-sifat baik Namlu dan kelompoknya, laksanakan koordinasi dengan baik, sempurnakan setiap ikhtiar kalian, totalitas, tawakkal dan iringi dengan do’a. Jangan congkak! Jangan sombong! karena itu akan menghancurkan diri kalian sendiri “.

Raja Asad mempersilahkan Namlu dan kelompoknya untuk menempati istana di sebelah istananya sebagai hadiah atas usaha dan kerja keras Namlu. Namlu dan kelompoknya hidup bahagia dan sejahtera. Sementara Alfiil gajah yang congkak hidup merana menanggung akibat ulah perbuatannya.

Share Postingan Ini Jika Bermanfaat :

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top