“Ramadan Bukan Beban, Tapi Nikmat: Tarhib Ramadhan Yayasan Darussalam Bersama Ustadz Isfiroini, Lc.”

Suasana haru dan penuh semangat menyelimuti agenda pengajian bulanan di Yayasan Darussalam saat seluruh guru dan karyawan berkumpul dalam rangka Tarhib Ramadan. Kegiatan ini menjadi momentum persiapan ruhiyah menyambut bulan suci, sekaligus penguatan niat dan visi perjuangan pendidikan Islam.

Pengajian yang menghadirkan Ustadz Isfiroini, Lc. sebagai penceramah ini berlangsung khidmat. Dalam tausiyahnya, beliau mengingatkan bahwa para guru adalah penerus tugas kenabian. Beliau mengutip sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Innama bu‘itstu mu‘alliman”
“Sesungguhnya aku diutus sebagai seorang pengajar.”

Menurut beliau, menjadi guru bukan sekadar profesi, tetapi amanah besar yang bernilai jariah. Setiap huruf yang diajarkan, setiap anak yang dibimbing, akan terus mengalirkan pahala. Bahkan, beliau menegaskan bahwa bisa jadi pahala terbesar justru diraih oleh pihak-pihak yang mendukung pendidikan, sebagaimana hadis tentang sahabat yang berbuka puasa dalam safar lalu membantu sahabat lain sehingga Rasulullah menyebut merekalah yang paling besar pahalanya hari itu.

Ramadan Bukan Beban, Tapi Nikmat

Memasuki bulan Sya’ban, beliau mengajak seluruh hadirin untuk menata hati sebelum Ramadan tiba. Disampaikan bahwa kewajiban puasa turun setelah 15 tahun pembinaan iman para sahabat. Artinya, Ramadan adalah puncak kesiapan ruhiyah.

Beliau membedakan antara “selesai” dan “sempurna” dalam beribadah. Banyak orang hanya berorientasi selesai, padahal yang Allah inginkan adalah kesempurnaan dan kualitas hati. Puasa, menurut beliau, memang termasuk taklif (beban syariat), namun Allah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa Dia menghendaki kemudahan, bukan kesulitan.

Ramadan seharusnya dinikmati, bukan diratapi. Jika sejak awal sudah terasa berat, maka ada yang perlu diperbaiki dalam hati. Para sahabat menikmati tarawih yang panjang, bukan menghitung rakaatnya. Mereka melihat Ramadan sebagai peluang, bukan kewajiban yang membebani.

Puasa dan Keikhlasan

Salah satu poin utama ceramah adalah tentang keistimewaan puasa sebagai ibadah paling personal. Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa puasa adalah milik Allah dan Allah sendiri yang akan membalasnya.

Puasa melatih keikhlasan karena tidak ada yang tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak, kecuali Allah. Inilah latihan terbesar dalam menjaga niat. Beliau mengingatkan bahwa amal yang terlihat banyak belum tentu lebih berat timbangan pahalanya dibanding amal yang tersembunyi namun ikhlas.

Beliau juga mendorong seluruh guru dan karyawan agar memiliki amal rahasia antara diri dan Allah—baik berupa sedekah tersembunyi, doa malam, atau ibadah lain yang tidak diketahui orang lain.

Ramadan sebagai Madrasah Hati

Di akhir tausiyah, beliau menekankan bahwa Ramadan adalah madrasah untuk membersihkan hati, melatih sabar, dan memperbaiki niat. Jika Ramadan berlalu tanpa bertambahnya keikhlasan, maka ada yang perlu dievaluasi.

Sebagai pendidik, keluarga besar Yayasan Darussalam diajak untuk menjadikan Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum peningkatan kualitas diri dan amal jariah. Karena boleh jadi, pahala terbesar bukan pada yang paling terlihat sibuk, tetapi pada yang paling ikhlas.

Pengajian ditutup dengan doa agar seluruh guru dan karyawan diberi kekuatan menyambut Ramadan dengan hati yang siap, sehingga puasa yang dijalani bukan sekadar selesai, tetapi benar-benar sempurna dan bernilai di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala.

Semoga Ramadan tahun ini menjadi Ramadan terbaik bagi keluarga besar Yayasan Darussalam. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Penulis : Wiwin Iswinarni, S.Ag

Share Postingan Ini Jika Bermanfaat :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top