Gerakan Literasi Nasional, dimanakah Peran Pelajaran Bahasa Indonesia?

Menggalakkan Literasi, dimanakah Peran Pelajaran Bahasa Indonesia

Oleh : Wiwin Irahayu, S.Pd

Literasi merupakan kegiatan memahami dan mengenali hal-hal yang disampaikan lewat cerita, gambar, maupun video yang kita baca atau kita lihat. Saat ini istilah literasi sudah tidak asing lagi kita dengar. Inilah yang sedang digerakkan oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Berdasarkan kutipan pada media online kompas.com.  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarin meminta proses belajar mengajar pelajaran Bahasa Indonesia fokus ke aspek literasi, bukan hanya gramatika. Hal itu disampaikan Nadiem usai rapat bersama Presiden Joko Widodo tentang strategi Indonesia meningkatkan peringkat dalam Program for International Student Assessment (PISA) melalui sambungan konferensi video, Jumat (3/4/2020). “Pelajaran Bahasa Indonesia harus fokus ke literasi, bukan gramatika dan kosakata. Tapi bagaimana konten pelajaran Bahasa Indonesia buku-buku yang menyenangkan, menarik, relevan untuk jenjang masing-masing siswa kita,” ujar Nadiem.

Pernyataan Bapak Nadiem ini tentu menjadi tombak semangat dalam menggerakan guru bahasa indonesia untuk berinovasi. Sebab dalam pelajaran bahasa indonesia ini senderi memang banyak materi yang bisa mengasa bakat anak dalam berliterasi. Seperti materi-materi pelajaran dalam buku bahasa indonesia kelas VII. Ada materi cerita fantasi, fabel, puisi rakyat, surat, dan buku fiksi dan nonfiksi. Dari materi-materi tersebut bisa menjadi jalan guru bidang studi untuk mengenali bakat siswa. Guru bisa menyeleksi karya tulis yang terbaik kemudian bisa di bukukan. Karya-karya inilah yang nantinya bisa menjadi media untuk memupuk semangat anak-anak lain untuk berkarya. contohnya siswa kelas VII Khansa Yumna Tsabita .

Berawal dari suka membaca kemudian menemukan formulir pengiriman naskah dari buku yang ia baca. Ia pun mengirim naskah yang ia tulis dengan judul “Bertemu Dinosaurus” kepada penerbit. Cerita yang ia tulis merupakan cerita fantasi. Dengan jenis cerita berbentuk komik. Tentu hal ini menjadi contoh untuk siswa lain nya yang mempunyai bakat menulis maupun menggambar komik. Namun guru tidak bisa hanya meminta hasil karya anak-anak. Namun guru harus bisa berperan penting dalam setiap prosesnya.

Ada beberapa proses yang harus digerakan pertama adalah contoh. Guru harus mampu memberi contoh. Dengan ikut menulis dan mengkasilkan karya.

Kedua adalah motivasi. Guru harus mampu masuk dalam pikiran bawah sadar siswa lewat motivasi mengajak siswa untuk mau berkarya sebagai nilai tukar untuk hidup sukses mereka nantinya.

Ketiga adalah mencoba memulai. Minta siswa untuk mencoba mulai menulis dengan tema-tema yang sederhana. Ketiga adalah editing. Guru harus bisa mengedit karya siswa tanpa mengubah maksud dan tujuan karya tersebut. Lewat disksi maupun tatabahasa yang benar.

Keempat adalah mengirimkan naskah. Guru harus memiliki wawasan yang luas dalam penerbitan, baik media massa maupun media online. Dengan usaha yang keras sebagai guru yang berkopeten tentu akan menghasilkan generasi emas.

Apalagi sekarang ini bukan saja badan bahasa kementrian dan kebudayaan saja yang selalu aktif mengadakan sayembera menulis. Seperti yang kini masih bisa kita lihat dalam media soasial instragram @badanbahasakemendikbud. Penerbit-penerbit indie juga tak kalah banyaknya memberikan peluang untuk penulis-penulis pemula dimulai dari usia 8-14 tahun dan usia dewasa. Contohnya penerbit Muffin Graphich (PT Cerita Anak Bangsa). Penerbit ini menjadi tempat menyalurkan bakat anak untuk menulis cerita anak tentunya. Dan sebagai guru bahasa indonesia tentunya harus mengenal  media yang bisa menjadi tempat dalam penyaluran bakat siswa.

 

Salam Literasi

 

  • Wiwin Irahayu, S.Pd merupakan guru bahasa Indonesia di SMPIT Darussalam 01 Batam
Share Postingan Ini Jika Bermanfaat :

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top