Lomba Menulis Dongeng: Pura-Pura Berakhir Nestapa

Di sebuah hutan yang sangat rindang dan segar, hidup lah berbagai jenis hewan dengan damai dan saling menyayangi. Hutan ini dinamakan dengan hutan cemara. Hutan cemara memiliki pohon-pohon yang rindang, air terjun yang sangat indah serta sungai yang sangat sejuk. Hutan cemara juga sangat terbuka dengan hutan yang lain. Hutan cemara memiliki hubungan yang baik dengan hutan-hutan yang lain. Hutan cemara dipimpin oleh seekor gajah yang sangat baik dan bijaksana.

Pada suatu hari, datang lah seekor kerbau yang kurus dan terluka ke hutan cemara. Kerbau itu terlihat lelah dan sangat kelaparan. Para penghuni hutan cemara yang terdiri dari monyet, harimau, sapi, burung dan lain-lain nya bersigegas menyelamatkan kerbau yang malang tersebut.

“Apa yang terjadi padamu wahai kerbau yang malang? “ Kata si Monyet.

“Aku telah disiksa oleh saudara kandung ku”, Jawab si kerbau sambil terisak-isak.

“Ohhhhh…. sungguh malang nasib mu, tinggal saja lah engkau di kampung Cemara dan tak usah kembali ke kampong mu,” Sahut hewan-hewan yang lain.

Singkat cerita si kerbau tinggal di kampung Cemara bersama dengan hewan-hewan yang lain.

Pada suatu hari, kampung Cemara akan mengadakan sebuah event tahunan yaitu perayaan ulang tahun kampung cemara. Semua warga kampung cemara bergotong royong membersihkan kampung mereka, ada yang membersihkan sungai dan ada pula yang menghias jalan-jalan agar terlihat indah.

“ Hhhmmm…. Malas sekali aku bangun pagi ini, lebih baik aku berpura-pura sakit saja, ngapain aku harus berlelah-lelah membersihkan kampung ini, mereka semua sangat lebay lebih baik aku tidur saja”, Gumam si kerbau.

Tok…tok..tok.. “Bauuu, banguuunn, bangun…kita akan pergi gotong-royong untuk membersihkan kampung kita”, Kata si sapi.

Tapi si kerbau pemalas ini tidak menyahut sama sekali, dia berpura-pura tidur.

Bauuuu….Bauuuu.. berulang kali sapi memanggil tapi tetap tidak ada jawaban dari si kerbau.

Dan sapi pun pergi meninggalkan rumah kerbau.

Di sore harinya kerbau ini pergi berjalan-jalan keluar rumah, betapa kagetnya dia ketika melihat kampung Cemara berubah menjadi sangat cantik. “ Huumm… cantik sekali kampung ini, katanya dalam hati.

Haii kerbau, “Sapa si gajah pemimpin Kampung Cemara”.

“ Eehh Tuan gajah, jawab si kerbau”.

“Bagaimana kabarmu?” kata si Gajah.

“Ohh saya baik Tuan Gajah, tadi pagi memang saya tidak enak badan makanya saya tidak bisa ikut dalam kerja bakti membersihkan kampung, jelas si Kerbau”.

“Ohhh tidak apa-apa kerbau, kau harus banyak-banyak istirahat di rumah  supaya engkau cepat sembuh”, Kata Tuan Gajah.

Seminggu kemudian, sebuah musibah datang kepada keluarga Monyet. Seekor monyet yang sudah tua meninggal dunia, seperti biasanya pasti semua masyarakat Hutan Cemara datang melayat ke rumah duka.

Pagi itu si Sapi pun pergi memanggil kerbau, untuk mengajak nya pergi melayat ke rumah monyet.

“Tok..tok..tok.. Bauuu..Bauuu..

Tapi seperti biasanya kerbau pun akan berpura-pura tidak mendengar.

“Tok..Tok..Tok.. Bauuu, apa engaku ada di dalam? Ayo kita pergi melayat ke rumah monyet.

Heniinnggggggg dan tidak ada jawaban.

Dan sapi pun pergi meninggalkan rumah kerbau dengan sedikit rasa kecewa.

“Hmm… ngapain aku harus capek-capek pergi melayat ke rumah monyet itu, lebih baik aku tidur, gumam si kerbau”.

Sepertinya sikap kerbau ini menjadi perhatian bagi masyarakat Hutan Cemara, banyak yang mulai membicarakan si kebau ini,kenapa dia selalu tidak pernah datang dalam setiap kegiatan Kampung Cemara, kenapa dia selalu sakit? Banyak yang mulai tidak percaya padanya.

Dan datang lah suatu pagi yang sangat mencekam, karena beberapa hari ini huan turun dengan sangat lebat nya maka air sungaipun meluap dan terjadilah longsonr dan banjir besar.

Pagi itu si kerbau sedang berada di dalam rumah nya sambil tidur-tiduran.

Bauuuuu…Bauuuuuu…Bauuuu..

Terdengar teriakan sapi dari luar.

“Hmm… dasar sapi pengganggu, ngapain lagi dia ke sini, lebih baik aku pura-pura tidur  seperti biasa…

BAUUUUUU…BAAUUUUU..BAUUUUU..BAAAANGUUUUNNNNNNNNN..

Suara sapi terdengar semakin kencang.

“Aduuhh,,,sapi jelek ini bener-bener mengganggu lebih baik aku tutup saja telinga ku, kata kerbau dalam hatinya,” Lalu si kerbau pun menutup telingan denagn dua buah bantal.

Sedangkan suasana diluar semakin mencekam, semua warga Kampung Cemara sudah pontang-panting berlarian menyelamatkan diri mereka dari amukan air sungai dan longsiran tanah. Karena sapi pun merasa ketakutan, dia pun pergi berlarian meninggalkan si kerbau yang sedang berpura-pura tidur itu. Beberapa menit kemudian kerbau pun sangat kaget karena dia mendengar bunyi dentuman yang sangat kuat, dia pun berlari keluar rumah betapa kagetnya dia melihat air besar datang dan pohon-pohon tumbang.

“TIDAAAKK…TOLONGGG…TOLOOONGG.. APA YANG TERJADI??

TOLOOOOOOOOOOOONGGG AKUUUUUUUUUUUUUUUUUUU…

Tapi tak satu hewan pun yang datang menolong dia karena semua nya sudah pergi berlarian meninggalkan Kampung Cemara. Dan akhirya kerbau pun hanyut dihantam banjir bandang dan dia pun sakratul maut karena terhimpit oleh pohon-pohon dan batu-batuan. Kerbau pun menangis dan menyesal.

“Seandainya aku tidak pura-pura tidur, pasti aku akan selamat dari musibah ini dan dia pun menangis sendirian”.

PESAN MORALNYA: Jangan suka berbohong, jangan suka berpura-pura, jangan suka berpikiran buruk terhadap orang lain.

 

 

 

Share Postingan Ini Jika Bermanfaat :

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top