Terjebak

Oleh : Hanna Naura*

‘‘Ongkos pulang-pergi bisa dapat sepeda motor Vario baru!

.’’            Tahun ajaran baru kali ini sangat-sangat dan sangat berbeda. Itu karena saat ini aku dan keluarga masih terjebak PPKM di Pulau Jawa. Larangan terbang untuk anak di bawah usia 12 tahun dan juga anak di atas 12 tahun sangat menyulitkanku. Tidak lupa harga PCR yang dua kali lipat dari harga tiket. Ongkos pulang-pergi bisa dapat sepeda motor Vario baru!

“Na, mandi sekalian sana! Masa mau sekolah engga mandi.” Ibu berteriak dari dalam tempat yang biasa kita pakai tidur itu.

Aku yang sedang buang air di kamar mandi segera menulikan pendengaran. Maaf ibu, mandi di pagi hari! Big no! Air yang berasal langsung dari sungai pasti akan membuat tubuhku menggigil seperti tinggal di kutub. Air hangat? Tetap saja angin sepoi-sepoi akan menghampiriku masuk melalui celah atap.

Tubuh ini keluar dari kamar mandi setelah sekalian mencuci muka. Aku pergi ke kamar dengan mengendap-endap agar tidak ketahuan jika tidak mandi. Menolehkan kepala ini untuk mengintip ke dalam kamar. Aman! Tidak ada ibu. Hanya ada saudara laki-lakiku yang sibuk bermain dengan anak kucing.

Saat berniat mengganti baju, aku ingat jika tidak ada seragam. Seragam tidak ada, apalagi peralatan sekolah. Apa boleh buat, ijinlah diri ini kepada Bu Reza untuk tidak memakai seragam. Hanya baju tiduran dengan lengan panjang dengan Rabbani hitam yang kupakai. Oh ya, peralatan sekolah belum dibeli. Memang rajin sekali aku. Berlarilah kaki ini terbirit-birit ke warung terdekat balai kampung. Sidu dua dan kenko dua. Hanya itu.

Ternyata G-meet sudah dimulai lima menit yang lalu. Bu Reza mengirim link di aplikasi hijau itu. Kami diperintahkan untuk mengaktifkan kamera. Bum! Aku terlihat seperti gagak di tengah sekawanan angsa.

Tidak apa-apa, hanya sampai bulan depan saja, kok.

Aku terus mengulang tiga kalimat itu dalam benakku. Nyatanya tidak segampang itu. Berbeda dengan kelas delapan kemarin, daring kali ini sangat rumit. Sholat Dhuha harus on cam, tidak boleh keluar G-meet, dan yang lebih susahnya lagi karena aku tidak mempunyai buku pegangan sama sekali. Dua dari kerumitan itu tidak begitu dipermasalahkan, tetapi yang tidak boleh keluar Gmeet ini ….

Pagi baterai harus 100%, kalau tidak ya bersiap saja akan tertinggal pelajaran atau jika sambil dicas hpnya akan panas. Tidak ada wifi di sini, membuatku mau tidak mau membeli kuota. 50GB seharga 60 ribu untuk seminggu. Belum lagi jika susah sinyal. Haduh!

Seminggu pertama … Alhamdulillah riweuh he … he … he. Ya mau bagaimana lagi. Beruntungnya aku dikelilingi teman-teman yang baik. Selama itu tugasku aman-aman saja. Kebiasaan baruku adalah mengirim pesan ke teman saat guru berucap, “Ayo buka halaman ….” Juga meminta foto catatan untuk dicatat ulang jika saat pembelajaran berlangsung sinyal kurang bersahabat.

Aku hanya berharap agar pandemi ini cepat berlalu agar pembelajaran luring dapat diadakan secepatnya. Terkadang khawatir dengan teman-teman di luar sana yang tidak memiliki hp. Pasti sangat sulit untuk mendapatkan pembelajaran. Mari kita senantiasa berdoa kepada Allah SWT.

 

-Kenangan liburan tahun 2021-

*Hanna Naura adalah SIswa SMPIT Darussalam 01 Batam kelas 9E. Dikenal senang menulis cerpen dan bercerita. Supel dalam pergaaulan. Dan waktu luangnya sering digunakan untuk membaca.

Share Postingan Ini Jika Bermanfaat :

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top