Lomba Menulis Dongeng: Buta Mata Bukan Buta Iman

Alkisah cerita seorang bapak tua yang baik hati.Cerita berawal dari seorang bapak tua miskin biasa dipanggil Angku yang mempunyai seorang anak gadis bernama Fauziah.Angku sudah 10 tahun ditinggal oleh istrinya.Istrinya meninggal karena penyakit sesak nafas yang dideritanya selama bertahun-tahun. Fauziah masih belia saat itu ditinggal oleh ibunya. Mereka tinggal di rumah yang sangat sederhana berdinding bambu beralaskan tanah.Semenjak ibu fauziah meninggal, Fauziah lah yang merawat Angku hingga sudah tua renta seperti sekarang.

Fauziah tidak pernah mengikuti belajar seperti orang-orang kaya di desanya. Beruntung Fauziah mempunyai ayah yang pintar, dulu pernah menjadi penjaga istana. Saat menjadi penjaga istana, semua prajurit diajarkan membaca dan menulis seperti orang-orang kaya di desanya. Supaya dapat membantu dalam pekerjaan sebagai penjaga istana. Ketika sudah tua renta dan sudah tidak punya tenaga lagi maka ayahnya tidak dipanggil lagi menjadi penjaga istana. Dengan ilmu yang dimiliki ayahnya, Fauziah diajarkan menulis dan membaca tulisan latin dan tulisan Arab. Hingga tidak heran Fauziah tumbuh menjadi anak yang pintar tulisan latin bahkan tulisan dan bacaan al-Qur’annya pun tidak diragukan lagi.

Fauziah adalah anak rumahan yang tidak pernah jauh-jauh bermain meninggalkan rumah. Bahkan kalau tidak ada yang harus dia kerjakan diluar rumah dia tetap didalam rumah demi menjaga kehormatannya sebagai anak gadis. Ayahnya selalu berpesan kepadanya “nak mana yang lebih mahal emas yang dijual di toko emas dibandingkan gula yang ada di pasar?” Tanya Ayahnya. “Tentu saja emas di toko emas ayah” jawab Fauziah.“Nah itulah sebabnya ayah tidak mengizinkan kamu pergi kemana-mana bersama teman-temanmu, karena wanita yang berada di dalam rumah itu akan lebih berharga dibanding wanita yang berkeliaran di luar rumah.Kamu mengerti anakku? ” jelas Ayahnya. “Baik ayah” jawab Fauziah.

Suatu hari Angku hendak menjala ikan di sungai. Angku mencari ikan siapa tahu hari ini rezekinya mendapatkan banyak ikan yang bisa dijual di pasar atau paling tidak bisa buat dijadikan lauk makan bersama anaknya. Satu jam berlalu tidak ada satupun ikan yang menyangkut di jaringnya Angku. Terlihat wajah kecewa di raut mukanya.“Kemana ikan-ikan di sungai ini?Sudah lama aku menjaring tak satupun yang kudapat”. Gumam Angku. Lalu Angku melempar sekali lagi jaringnya. Ketika dia angkat, jaringnya merasa berat. “Ya Allah berat sekali jaringku Ya Allah. Apakah ikannya besar sekali hingga jaringku ini terasa berat sekali” kata Angku. Ketika diangkat betapa terkejutnya Angku ada sesosok manusia terjaring. ”astagfirullahaladzim, ada orang” Angku terkejut. Ditariklah jaring tadi ke pinggir sungai. Angku memperhatikan ternyata ada pemuda yang hanyut disungai tersebut, dia sentuh urat nadi pemuda tersebut, ternyata masih berdenyut. “Ya Allah orang ini masih hidup” katanya. Dengan sekuat tenaga Angku membawa pemuda tersebut menuju rumahnya untuk diobati. “berilah aku kekuatan ya Allah, jika memang pemuda ini masih berumur panjang selamatkanlah dia” doanya di dalam hati.

Sesampainya di rumah Angku mengganti pakaian pemuda tersebut. Diobatinya luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya. Tiba-tiba Fauziah datang dan bertanya. “siapa dia ayah? Kenapa ada di sini?” Tanya Fauziah. “Dia terjaring waktu ayah menangkap ikan tadi. Sepertinya dia masih hidup. Kita harus menolonya” jelas Ayah. “Untuk apa kita harus membantunya Ayah? Sedangkan kita tidak kenal dia siapa.dia orang baik atau orang jahat.” Kata Fauziah. “Tidak apa-apa nak. Kita harus saling membantu. Allah maha tau apa yang kita perbuat. Sekarang untuk beberapa hari kamu menginaplah di rumah bibimu di desa sebelah. Tidak enak kalo ada yang tau kalau kamu ada di sini bersama seorang yang bukan muhrimu” jelas Ayah. “Baik ayah” jawab Fauziah.

Beberapa hari kemudian, di subuh hari yang dingin. Setelah shalat subuh Angku membersihkan luka dari pemuda tersebut. Betapa terkejutnya bercampur senang, pemuda itu sudah sadar. “Wahai anak muda bagaimana keadaanmu sekarang?” Tanya Angku. Dengan terbata-bata pemuda itu berkata ”Dimana aku? Kamu siapa? Aku siapa?” tanyanya. Sekuat tenaga pemuda tersebut bangun dari tempat tidurnya. Tetapi tidak ada daya dan upaya yang bisa dia lakukan.Seolah-olah tenaganya hilang.“Tenang anak muda.Engkau aman di sini.Engkau dirawat dengan baik. Berlahan-lahan nanti tenagamu akan pulih kembali”. Angku menenangkan. Dengan penuh keikhlasan Angku merawat pemuda tersebut hingga akhirnya pemuda tersebut sudah pulih kembali dan mengingat kembali kejadian sehingga dia bisa hanyut di sungai.

Setelah pulih pemuda itu bercerita bahwa dia bernama Faisal. Faisal menceritakan kejadian yang dialaminya. Waktu itu dia pergi memancing ikan di sungai pada siang hari. Tiba-tiba langit yang pada awalnya cerah berubah menjadi hitam gelap, angin bertiup sangat kencang, terjadi badai hujan yang sangat menakutkan. Dia mau berlindung dan berusaha mendayung perahunya ke pinggir sungai. Namun karena air sungai yang begitu besar perahunya tidak bisa menahanya hingga diapun terbawa arus sungai yang sangat ganas. Tapi beruntungnya Faisal masih diberi umur panjang oleh Allah dan ditolong oleh orang yang sangat baik. “Terima kasih Angku sudah menolongku” kata Faisal. “Sudah menjadi kewajiban kita sesama manusia membantu. Apa lagi kita sebagai umat Islam kan bersaudara” kata Angku.

Hari demi hari berlalu, Faisal masih tinggal di rumah Angku. Faisal berencana kembali ke kampungnya namun dia harus menyelesaikan sampannya dulu untuk kembali. Angkupun merasa senang karena ada yang menemaninya di rumah. Ada yang menjadi makmum ketika shalat lima waktu. Ada yang mambantu mencarikan kayu dan memotong, membelah kayu itu untuk dijadikan kayu bakar. Ada yang membantunya di kebun sekeliling rumahnya. Faisal sangat rajin. Tanah di sekeliling rumah Angku ditanami berbagai macam tanaman yang bisa diambil dan di panen kapan saja. Rumah Angkupun dia perbaiki dengan menggunakan kayu-kayu yang diprolehnya di hutan. Dengan milihat sikap dan tingkah laku Faisal yang sangat rajin dan sholeh Angku jadi senang dan berniat menjodohkannya dengan anak gadisnya.

Sore itu setelah shalat Ashar Angku memanggil Faisal. “ Faisal, kesinilah sebentar. Ada yang mau Angku sampaikan kepadamu nak” kata Angku.“Kenapa Angku? Angku mau menyuruhku pergi? Atau aku berbuat salah Angku? Kalaupu aku salah aku minta maaf Angku” kata Faisal dengan nada cemas. “Tidak anakku” jawab Angku.“Begini Engkau sudah beberapa lama di sini. Angku perhatikan engkau adalah pemuda yang rajin. Lihatlah sekeliling rumah ini. Bahkan rumah ini sudah engkau buat menjadi sangat indah. Angku sangat berterima kasih.” jelas Angku. Faisal berkata “Ini belum seberapa Angku. Angku sudah menyelamatkan nyawaku. Kalau tidak ada Angku mungkin aku tidak akan selamat ”. “Tidak anakku Allah lah yang menyelamatkanmu.

Engkau berterima kasih lah kepada Allah”. Jelas Angku. “Baik Angku, Angkupun berjasa dan aku tidak dapat membalasnya” kata Faisal lirih.“Anakku” panggil Angku. “Iya Angku” sahut Faisal.“Jika engkau berkenan, aku berniat menjodohkanmu dengan anak gadisku” kata Angku “Anak gadis? Memangnya Angku mempunyai anak gadis? Aku tidak pernah melihatnya selama ini” kata Faisal heran.“Iya aku mempunyai anak gadis, tetapi sekarang dia ada di rumah bibinya. Dia aku suruh menginap disana karena ada orang yang bukan murimnya di rumah ini” jelas Angku.“  Apakah aku pantas jika menjadi pendamping hidup anak Angku nanti, sedangkan Angku tidak tau asal usulku” kata Faisal. “ini adalah firasat seorang ayah dan Insya Allah benar. Jika engkau berkenan menerimanya aku akan menjodohkan engkau dengan anakku. Tetapi….. “ ucap Angku ragu. ”Tetapi apa Angku? “ Tanya Faisal. “Tetapi anak gadisku orangnya buta, bisu, tuli dan pincang” kata Angku. “Apa?” Faisal kaget.“Ya benar. Jika engkau tidak mau tidak apa-apa mungkin kalian tidak berjodoh. Aku beri engkau satu malam untuk berfikir. Besok pagi akan aku tanyakan kembali” jelas Angku.

Faisal masih bingung kenapa Angku menjodohkan anaknya padahal anaknya mempunyai kekurangan yang sangat fatal. Semalaman Faisal berfikir hingga matanya tidak bisa terpejam. Faisal mempertimbangkan.Angku sudah menyelamatkan nyawanya. Apakah dengan cara ini dia bisa berbalas budi kepada Angku. Setelah berpikir, Faisal memutuskan akan menerima lamaran itu karena berbalas budi kepada Angku. Dia berpikir, dalam berumah tangga itu saling mengisi, kalo anak Angku itu buta, bisu, tuli dan pincang, sedangkan aku sempurna akulah yang akan membantunya.

Keesokan harinya, setelah shalat subuh Angku menanyakan kembali.“Bagaimana anakku. Apakah engkau sudah mempunyai jawabanya?” Tanya Angku. “Baiklah Angku aku akan menerima pinangan Angku” jawab Faisal. “Alhamdulillah” sahut Angku bahagia. “Kalau begitu kita akan langsungkan secepatnya. Tetapi dengan  satu syarat” kata Angku. “Apa Angku?” Tanya Faisal penasaran. “Kamu hanya boleh melihatnya setelah ijab kobulnya di langsungkan. Begitulah anjuran dalam Islam” jelas Angku. “Baiklah Angku” jawab Faisal.

Secepatnya Angku menyampaikan niatnya kepada Fauziah. Fauziahpun terkejut dengan keputusan ayahnya. Dia tidak menyangka ayahnya akan melakukan hal itu. Walaupun dia sudah tau bagaimana ceritanya pemuda yang rajin dan sholeh tersebut dari penuturan-penuturan ayahnya. Demi baktinya kepada ayahnya, Fauziah menyetujui rencana ayahnya tersebut. Karena orang tua akan melakukan yang terbaik untuk anaknya.

Tidak lama pernikahanpun berlangsung. Faisal melaksanakan ijab kobul di depan buya yang ada di kampung dan disaksikan oleh ayah Fauziah beserta keluarganya. Setelah itu Fauziah baru boleh dipertemukan dengan anaknya Angku yang katanya buta, bisu, tuli dan pincang itu. Tiba-tiba datanglah Fauziah dari belakang. Betapa terkejutnya Faisal ternyata anak Angku yang serba kekurangan itu memiliki kecantikan yang luar biasa Subhanallah. “Angku kenapa berbohong kepadaku. Anak Angku yang buta, bisu, tuli dan picang itu sungguh wanita yang sempurna” kata Faisal.“Anakku emang benar anaku buta. Biar aku jelaskan. Butanya karena dia tidak pernah melihat hal-hal buruk yang dia lihat hanya ayat-ayat al-Qur’an. Betul dia bisu. Karena dia tidak pernah berkata-kata kasar atau berkata yang tidak disukai Allah. Dia hanya melantunkan ayat suci al-Qur’an. Emang betul dia tuli karena dia tidak pernah mau mendengar hal-hak buruk. Yang dia dengar hanya lantunan ayat suci Alquran.Memang benar dia pincang. Karena dia tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang dilarang  Allah. Begitu anakku” jelas Angku. Dengan mata berkaca-kaca Faisal memeluk Angku bahwa tidak hanya sekali menyelamatkannya tetapi dua kali. Karena Angku menyelamatkan dia dengan memberikan istri sholehah yang akan menyelamatkan dia dunia dan akhirat.

Pada akhirnya Faisal dan Fauziah hidup bahagia. Angkupun sangat bahagia karena telah mengantarkan anak gadisnya ke tempat yang sangat dia impikan. Angku tidak akan cemas harus meninggalkan anaknya karena sudah ada yang menjaga anaknya di dunia dan di akhirat nanti. Buta mata bukan berarti buta iman. Karena yang diimani itu bukan hanya fisik tetapi juga hati.

Share Postingan Ini Jika Bermanfaat :

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top