Guru Berliterasi (Dalam Buku “Bunga Retak Rindu Abadi)

Guru bertugas mendidik dan mencerdaskan anak bangsa, tiadak hanya kecerdasan intelektual namun kecerdasan moral juga sangat penting. Di era globalisasi penanaman nilai-nilai karakter sejak dini sangat dianjurkan untuk menjadikan generasi yang tangguh. Setiap tindakan seorang guru diikuti oleh anak didiknya maka sewajarnyalah jika guru mencontohkan hal-hal yang baik. Setiap tindakan dan tutur kata adalah inspirasi bagi anak didiknya.

Lewat kreatifitas, berinovasi, dan menginspirasi melalui karya-karya abadi berupa puisi. Bercerita lewat aksara, berbicara lewat bait-bait terangkai indah berharap menjadi sebutir embun yang menyejukkan hati kala membacanya.

 

Terimalah persembahan dari guru-guru SDIT Darussalam 01 Batam. Semoga menginspirasi.

Koordinator Literasi Sekolah   (Tri Rahmawati, S.Pd)

Serpihan Asa

Tri Rahmawati, S.Pd

Aku bukan siapa-siapa

Aku bukan apa-apa

Aku hanya segelintir harapan

Hanya mimpi bunga tidur malam

 

Keinginan menggebu mengumpulkan bait demi bait impian dan harapan

Berharap menjelma menjadinyata

Memungut puing-puing rasa menyatu menjadi sebuah semangat

Dan harapan dalam kalimat bermakna

Terangkai bait-bait indah dari serpihan asa yang tercecer

Diterima dengan lapang dada, dituntun dengan bijaksana, dibaca dengan seksama

 

Salam santun terucap kata

Senyum manis menyambut riang gembira

Seuntai Kisah Tentangmu

Wiwin Iswinarni, S.Ag

Wajah cantikmu kini mulai berkerut

Menunjukkan kalau dirimu tak lagi muda

Tangan kokohmu tidak lagi kuat

Rambut hitammu sudah mulai memutih

 

Namun . . .

Ketulusan masih terpancar diwajahmu

Senyuman penuh kasih sayang untuk kami anakmu

Usia senjamu tidak menghalangi kebaikan hatimu

 

Melihat rembulan tidak mesti di malam hari

Karena sudah ada dimatamu

Merasakan embun tidak mesti di pagi hari

Karena ada di senyummu

Pelukanmu masih tempat ternyaman  untuk  kami anakmu

 

Sungguh engkau pahlawan terhebat

Tiada keluh kesah dalam membesarkan kami

Kasih sayangmu seluas samudra

Surga itu masih ditelapak kakimu

 

Dalam do’a namamu kusebut

Tangan tengadah  meminta kepada Sang Pencipta

Moga ibu diberi umur panjang

Tuk saksikan kebahagian anak-anakmu bersamamu

Rindu di Palut Inai

Ifal Defami, S.Pd

Swastamita semena-mena, meninggalkan keindahan lalu pergi

Aku termangu bersama secangkir liberika rindu yang ku seduh dalam rapalan doa-doa

Puan telah lama tidak pulang, lalu datang dengan suguhan manisan abun-abun

Amsal, senja adalah rindu, meskipun lama ia akan tetap diganggu

 

Apa kabar cindai jingga?

Masihkah puan simpan sebagai azimat peluruh rindu !

Arunika, pudur suluh tinggal jelaga. Untuk apa puan datang?

Jika, hanya untuk melihat tangan puan berinai lawa

Puan dalam pinangan

Memang bukan salah puan

Bersamaku, puan akan sengsara

Puan tak akan berpalut emas dan bermandikan uang kertas

Kini diksi-diksi ku ramu bersama syair-syair patah hati seorang pujangga

Selamat pagi Arunika

Selamat senja Swastamita

Selamat berbahagia untukmu dan selamat menata hati kembali untukku

Pemilik Mahkota

Dra Indah Lestari Retnowati

Kita sedang berjuang, anakku

Bismillaah, awali langkah

Biidznillaah, yakin kita bisa!

Fokus menembus rintang meski jalan berliku panjang membentang

Tabah mendaki pasti hingga capai titik tertinggi

Puncak di depan sana begitu nyata, bukan fatamorgana

 

Kita sedang berjuang, anakku

Berjuang mengukir senyum orang-orang tercinta

Berjuang menyalakan bangga di sorot mata mereka

Berjuang mengubah asa menjadi nyata

 

Kita sedang berjuang, anakku

Jangan dengar suara sumbang biarpun lantang terdengar

Jangan hirau sorot cemooh hanya lahirkan sejuta risau

Jangan peduli senyum meragu meski sungguh terasa menghina

 

Kita sedang berjuang, anakku

Yakinlah segala lelah yang lillaah adalah ibadah

Maka haramkan kata menyerah

Karena janji Allah adalah niscaya

Maka ridhaNYA adalah senjata utama

Man jadda wa jadda

In syaa Allah, kita pemilik mahkota

 

Sebuah Asa Yang Terpendam

Yuyun Rusmawati, S.Pd

Derasnya hujan tak kuhiraukan

Dinginnya pagi tak ku rasakan

Teriknya panas mentari tak ku keluhkan

Berat kehidupan tak ku risaukan

 

Wahai murid-muridku

Kulihat wajahmu cerah berseri

Memancarkan cahaya penuh semangat

Menanti setetes ilmu dariku

Dengan membawa kertas dan pena siapa menimba ilmu

 

Kupatrikan niatku dalam sanubari

Tulus ikhlas membimbing dan mengantarmu

Merangkul ilmu

Tuk menyongsong masa depan membangun negeri

 

Muridku . . . .

Aku rindu kepolosanmu

Aku rindu canda tawamu

Aku rindu semangat belajarmu

Aku rindu tatapan binar matamu yang haus akan ilmu

Muhasabahku

Himayatul Aliyah, S.Pd

Ketika setiap nikmat kurasakan, apa lagi yang kukeluhkan

Ketika lelahku berujung pahala, apa lagi yang kukeluhkan

Ketika sakitku penghapus dosa, apa lagi yang kukeluhkan

Ketika setiap detik kurasakan napas, apa lagi yang kukeluhkan

 

Setiap helaan napas begitu melegakan

Setiap senyum dan tawa begitu melenakan

Setiap pandangan mata begitu menghanyutkan

Setiap makanan dan minuman begitu memabukkan

 

Sering kumerasa sedih tak tergapai harapan

Namun bukankah selalu Kauberikan yang kubutuhkan

Karena Engkau lebih mengerti

Yang terbaik untuk kumiliki

 

Sujudku tuk menggapai ridhaMU

Doaku tuk mensyukuri segala nikmatMU

Napasku tuk beribadah kepadaMU

Tangisku tuk menyesali kesalahan dan kelalaianku

 

Betapa tak terhitung nikmat yang KAUberikan

Maka nikmat manakah yang bisa kudustakan?

Hadirkan Semangat Baru

Marfuah, S.Pd.I

Entah . . .mengapa tidak ada lagi gairah itu

Entah . . .mengapa lidahku juga kelu

Tanganku enggan menulis kata-kata puitis itu

Ehm . . .

Mungkin lelah menghampiriku

Mungkin jenuh menyapaku

Ku harap hanya sementara

Sekedar mampir dan menyapa

Hingga suatu waktu aku bangkit

Gairah itu akan tumbuh

Semangat itu akan hadir

Ayo . . . .

Meski kau bukan sang pujangga

Meski kau bukan penyair ulung

Setidaknya kau mau memulainya kembali

Menorehkan coretan-coretan indah di atas secarik kertas itu

Ayo . . . .

Bangkit teruslah berkarya

Tanggalkan semua kemalasan

Gantikan dengan sebuah tulisan

Hadirmu Ku Tunggu

Nurhasana Pane, S. Pd

Gema adzan telah dilantunkan

Pertanda hidup baru segera dimulakan

Dengan lahirnya seorang insan

Yang lama telah Tuhan janjikan

 

Tangisan rindu di pagi subuh

Membuatku seketika rasa haru

Menyambut datangnya dunia baru

Menjadikanku sebagai seorang ibu

 

Tak butuh waktu lama aku berpikir

Ku panggil kamu dengan sebutan “Syaakir”

Sebagai tanda ucapan syukur

Atas karunia Allah yang tak terukur

 

Kini… hadirmu menghiasi hari-hariku

Tawa tangismu selalu ku rindu

Ocehanmu jadi penyemangatku

Kau satu Anugerah indah dalam hidupku

 

Disaat aku lelah mencari berkah

Kau datang padaku dengan senyum sumringah

Hingga semua rasa yang ada

Berubah jadi tawa bahagia

 

Tiada hari tanpa merindukanmu

Tiada hari tanpa mendoakanmu

Doa terbaikku hanya untukmu

Duhai anakku penyempurna hidupku

Embun Pagi

Ratih Wulandari, S.Pd

Kala mentari mulai menampakkan rupanya

Ayam teriak memekik bersahutan

Mulailah tampak kemilau bening itu

Ya . . . bening itu begitu indah ku pandang

 

Embun pagi biasa orang memanggil

Sangat menawan tampak di atas anggrekku

Bening kristal yang tak mampu menyilaukan mata

Tapi mampu menyejukkan mata yang melihat

 

Di saat bening itu masih setia di atas anggrekku

Tak lelah mata ini memandangmu . . .

Menambah pesona cantik si anggrek

Yang tersenyum manis menyambut pagi . . .

 

Tapi . . .

Saat embun berhamburan di atas rumput

Hanya kaki ini yang menyapa

Tanpa inginku memandang lekat . . .

 

Walaupun engkau terinjak tanpa dikagumi

Ataupun dikagumi tanpa lelah

Engkau masih setia di sini . . .

Di pagi ini . . . menyambut hari . . .

Untukmu Ibu

Rina Roza, S.Pd

Wajah itu . . . adalah kekuantanku

Wajah itu . . . adalah wajah yang selalu ku rindu

Senyum itu . . . insprirasi bagiku

Senyum itu . . . penyemangat dalam hidupku

 

Do’a darinya adalah pembuka jalan bagiku

Ridhonya adalah harapan terbesarku

Nasehatnya adalah petunjuk arahku

Membayangkan dirinya mampu meloloskan air mataku

 

Tak terhitung peluh yang sudah ia keluarkan

Tak terhitung lelah yang sudah ia rasakan

Tak terhitung pengorbanan yang sudah ia berikan

Tak terhitung Ya Allah . . .

 

Rindu ini semakin dalam untuknya

Hati ini selalu mendo’akannya

Dalam sujud aku meminta padamu Ya Allah . . .

Jagalah dia untukku . . .

 

Surgaku di bawah telapak kakinya

Kebahagiaanku ada pada setiap do’a – do’anya

Cinta terbesarku adalah dirinya

Ibuku tersayang . . . Anna Uhibbuki

Perjuangan Tak Berbatas

Elsa Martinelli Fitri, S.SI

 Kala sang surya masih enggan menampakkan diri

Langkah kakinya memecah kesunyian pagi

Kala selimut terasa begitu hangat

Dia tembus dinginnya pagi demi hidupnya

Tubuh renta, kaki yang rapuh menelusuri jalanan

Mengumpulkan sesuatu yang terbuang

 

Keringat mulai membasahi tubuh tuanya

Tak ada keluhan yang terurai dari bibirnya

Tiada air mata yang mengalir di kedua belah pipinya

Semangat tua yang tak lekang oleh waktu

Tak pernah kalah oleh lara yang menghampiri

Hatinya yang tegar selalu berkata :

“ Menyambung hidup dengan keringatku, bukan mengharap belas kasih para dermawan “

Air

Arninda Siregar, S.Pd

Benda unik yang selalu hadir disetiap sisi kehidupan

Air bila bertemu dengan hujan jadilah air hujan

Ia turun dengan lembut

Menyentuh daun dan tanah kering

Jadilah tanda rahmat dari sang Maha Kuasa

Atau ia turun seperti gelombang amarah menghancurkan setiap lapis kehidupan

Maka tanda kehancuran bagi pelaku maksiat

Atau cobaan bagi orang yang beriman

Hanya hati mu yang dapat memberi tanda

 

Air namanya

Menjadi air mata bila bersanding dengan kata mata

Namun menjadi berbeda bila kata air mata

Kau mau pilih yang mana?

Aku pilih air mata

Karena air mata punya banyak bentuk

Ada air mata bahagia

Air mata cinta

Air mata luka

Air mata angkara murka

Kau pernah punya air mata yang mana?

 

Air namanya

Kutemukan ia dengan kata muka

Menjelmalah menjadi air muka

Air muka senang bila senang

Air muka sedih bila sedih

Air muka berwibawa tanda usia menakar jiwa

Air muka pura-pura

 

Air namanya

Selalu mencari tempat terendah untuk ditempati

Tak pernah menanjak melawan arti

Memberi diksi selalulah memberi tanpa mengerti arti kembali

Kerinduanku

Bekti Ekowati

Kurindu suara tangismu

Yang memecahkan hening menghilangkan ketegangan

Kurindu suara tangismu

Yang menisyaratkan ketidak nyamanmu

Kurindu suara tangismu

Yang menumpahkan segala duka dan laramu

Aku merindukanmu

 

Kurindu senyuman manismu

Senyuman yang menghiasi bibir mungilmu

Ku rindu senyuman manismu

Ketika  menyapa dan tersipu malu

Aku merindukan itu

 

Kurindu celotehanmu

Yang menceritakan indahnya masa kecilmu

Kurindu celotehanmu

Yang menumpahkan rasa ketidak sukamu

Kurindu celotehanmu

Tentang ketidak adilan sosialmu

Kurindu celotehanmu

Yang memuja dan merayu manja

Ketika engkau menginginkan sesuatu

Aku merindukanmu

 

Kurindu belaian lembut tanganmu

Yang mengusap lembut wajah lesuku

Kurindu belaian lembut tanganmu

Saat kau butuh perlindunganku

Kurindu belaian lembut tanganmu

Mendekap manja menumpahkan segala gundahmu

Aku rindu……….

 

Akankah rindu ini terobati

Ataukah hanya akan menjadi sebuah kerinduan yang hakiki

Hanya Allah yang tau pasti

Dan biarlah ini menjadi sebuah misteri

Yang bakal aku nanti

Karena aku tau pasti Allah tak akan ingkar janji

Buat hambanya yang sabar menanti

Kepergian Sang Ulama

Ngaeni Yatus Salamah, S.Pd.I

Alam menari dengan lincahnya

Dalam hitungan seketika

Tanpa  disadarinya

Semua sebagai tanda-tanda

 

Hati bertanya-tanya mencari makna

Apa makna semua yang ada

Hati mulai menelisik jiwa

Rabby …ya rabb ighfirlana

 

Engkau jemput kekasihMu

Kembali keharibaanMu

Kyai Haji Maemun Zubaer

Sang Ulama kharismatik nan legendaris

Pesan Untuk Anakku

Siti Rohmah, S.Pd

Anakku . . . .

Kami bukanlah orangtua

Yang bergelimang harta

Namun dengan sekuat jiwa dan raga

Berusaha mewujudkan cita-cita

Membekali hidupmu dengan do’a dan cinta

 

Anakku . . . .

Engkaulah tumpuan dan harapan kami

Generasi yang berakhlaq suci

Pembela agama dan Ibu pertiwi

Pemburu ridho Illahi

 

Anakku . . . .

Jadilah insan yang berbudi

Hiasi hidup dengan berbagi

Agar kehadiranmu lebih berarti

Keberkahan menyertai

Mangkok Tua Dan Makna Cinta

Welni, S.Pd

Mangkok tua lusuh itu selalu menemaninya

Menjadi saksi dalam setiap timbangan kebaikan baginya di akhir nanti

Menjadi narasi dalam setiap incghi pengorbanan yang dia tuangkan bagi kami

Hmmm… lihatlah bagaimana dia menuangkan sesendok minyak jelantah pada mangkok lusuh itu

Tangan keriput itu sedikit bergetar

Dengan tiga jarinya dia oleskan pada kaki-kakinya yang tak lagi kokoh

Sesekali dia pejamkan matanya karena tangan nya terlalu keras menekan tulang nya yang keriput itu

Aku tahu dia lelah

Aku tahu dia linu

Nafasnya pun sudah tal ringan lagi ku dengar

Tersengal-sengal tanpa irama

Tapi lihatlah Tuhan, cinta seperti apa yang telah engkau semaikan di hatinya untuk kami

Dia bahkan tak sempat sedetikpun bersenandung dengan mentari pagi

Dia abaikan kicau burung yang bernyanyi

Dia bahkan tak ada waktu untuk hanya sekedar minum kopi di ujung senja

Baginya senja adalah kepingan uang logam yang yang harus dia pungut

Oohh ibu adakah cinta yang lebih besar dari pada cinta mu untuk kami?

Adakah rintihan do’a yang lebih sendu dari pada rintihan do’a mu untuk kami?

Terima kasih ibu

Lirihku dalam hati sambil menopang air mata ku dari sebalik tonggak tua istana kami

Cinta mu adalah bunga paling wangi dalam taman surga

Merayu Sang Maha Cinta

Rizki Inggi B.T, S.Pd

Setiap ayat cinta-Nya mengalun lembut menembus jiwa.

Setiap langkah bersama-Mu membawaku mendekati-Mu.

Merayu-Mu dengan berjuta kata cinta bak kisah romansa.

Merapal kepada bumi , menguar menuju langit.

Layakkah aku merayu kepada-Mu Dzat yang Maha Cinta ?

Menggenap rasa kepadaMu, mencintaiMu dalam setiap hela nafas.

Layakkah aku merayu kepadaMu Dzat yang Maha Cinta ?

Jikalau aku alpa untuk membisik kata rindu pada-Mu.

Layakkah aku merayu kepada-Mu Dzat yang Maha Cinta ?

Kala aku lalai akan setiap hadirmu disetiap aliran darah.

Layakkah aku merayu kepada-Mu Dzat yang Maha Cinta ?

Kala aku terlalu lalai dalam menggapai setiap bisikan-Mu

Layakkah aku merayu kepada-Mu Dzat yang Maha Cinta ?

Dariku, yang mengharap akan cinta-Mu.

Doa Disetiap Sujud untuk Ayah

Sandri Samputri, S.Pd

Ayah . . . .

Tiada kasih seindah kasihmu

Tiada cinta semurni cintamu

Kasih sayangmu begitu hangat

Sehangat mentari diwaktu Dhuha

 

Ayah . . . .

Pengorbananmu tak akan bisaku balas dengan apapun

Siang dan malam mencari nafkah untukku

Tak hiraukan terikmya matahari

Tak hiraukan dinginnya malam menembus kulitmu

 

Ayah . . . .

Dalam diam aku teringat akan dirimu

Kepergianmu adalah patah hati terberat bagiku

Karena engkau cinta pertama untuk anak – anakmu

Langkah kaki terasa berat tanpamu

 

Ayah . . . .

Kini kau telah tiada

Meninggalkan luka yang mendalam dihatiku

Terasa sesak dada ini mengenangmu

Kini kau disisi Yang Maha Kuasa

 

Ayah . . . .

Disetiap sujud malam aku menangis

Teringat semua pesan dan nasehatmu

Ku kirim doa dan setangkai Fatiha untukmu

Semoga Ayah bahagia di Syurga – Nya

Kamu

Risa Syafriyanti, S.Pd

Aku berniat menyalin senyummu ke dalam puisi

Huruf nya ku kutip dari ombak yang merindukan pantai

Aku benrjanji memindahkan kesholehanmu kedalam puisi

Katanya-kanya ku ambil dari hujan yang rindu menjadi mendung

 

Aku berniat menerjemahkan keindahan matamu kedalam puisi

Bait-bait nya kutulis dari abu yang rindu menjadi kayu

Dan aku berniat menulis dirimu dalam sukmaku

Karna kau adalah puisi yang di tulis tuhan untukku

Renungan disaat Sepi

Delita Murni, S.Pd.I

Di keheningan malam yang sepi

Aku merasakan ada bisikan yang terlintas

Apalah artinya hidup ini?

Tanpa ilmu dan keberanian

Hidup bagaikan permainan hati

Harus berani melewati rintangan membentang

Istana indah akan menanti

Sebagai hadiah yang dapat dijadikan tauladan

Ya Rasullah

Dian Susilawati, S.Pd

Hidup ini sungguh indah

Andaiku dapat tatap wajahmu Ya Rasullah

Disetiap langkahku selalu teringat namamu

Setiap hari kulantunkan sholawat

Demi cintaku kepadamu Ya Rasullah

 

Setiap saat selalu ku ingat namamu Ya Rasullah

Semoga mengalir keberkahan dalam diriku

Allahumma Soli’ala Muhammad

Wa’ala ali Muhammad

Aku rindu padamu Ya Rasulullah

Berharap bertemu denganmu Ya Rasululluh

 

Saat Ia Menjauh dan Pergi Dariku

Widya Wati

 Kepergian itu telah membuatku padam penglihatan dan pemikiran

Kepergian itu telah menutup rapat harapan dan cita-citaku

Kepergian itu terasa mimpi…mimpi…dan sekali lagi mimpi

Sedangkan aku tidak tidur

Kepergian itu betul-betul membuat hati dan ragaku lemah tak berdaya

 

Kepergian itu telah menyurutkan gairah hidupku hingga aku dibayangi cemas dan takut

Kepergian itu begitu cepat dan senyap sehingga membuat dadaku sesak

Kepergian itu tidak pernah kumimpikan dan terlintas di benakku

Kepergian itu membuat berontak hatiku pada Tuhanku

Ya Robb…kenapa ini Engkau timpakan kepadaku

Ya Robb…mengapa…?

Apa salahku kepadaMU ?

 

Kepergian itu mengubah suasana bahagia dan ceria menjadi duka

Kepergian itu menyisakan berjuta tanda tanya

Kepergian itu mengumpulkan banyak kisah dan cerita suka dan bahagia

Kepergian itu terasa melambungkan seluruh cita dan asa

Hingga aku menemukan seutas cerita dalam mimpi indah berjumpa denganya

 

Kepergian itu menyisakan tanda tanya dan rahasia Tuhannya

Saat aku berangkat kerja tiada lagi sapa

Saat Aku di tempat kerja tiada ada lagi yang kutelepon untuk bercengkrama

 

Saat aku tiba di rumah tidak ada lagi tempat untuk saling berbagi rasa dan cerita

Saat aku bersujud padaNya tidak ada lagi imam untuk berdo’a

Saat aku resah dan gulana tidak ada lagi penghibur hati, pikiran, dan mata

Saat sang bintang bangun tidur selalu saja aku mengingatnya

 

Guru hebat mampu menginspirasi anak didiknya

Teruslah berkarya

#Salamliterasi

#GuruSDITDarussalam01

#DarussalamJuara

 

 

 

 

Share Postingan Ini Jika Bermanfaat :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top